Make your own free website on Tripod.com
   
Perkebunan Teh Malabar
[
english|indonesia|netherlands]

Sejarah perkebunan Malabar diawali sejak tahun 1890, ketika budaya Belanda mulai mewarnai kehidupan di dataran tinggi Pangalengan.

Pangalengan, dahulu dijuluki Swiss-nya Indonesia.

Perkebunan the Malabar didirikan 1896, dimana KAR Bosscha sebagai orang pertama yang mengelola perkebunan tersebut. Di kemudian hari, dia dipercaya untuk menjadi pengelola utama untuk seluruh perkebunan the di wilayah Pangalengan.

Taman cantik di rumah kediaman Bosscha.

 

Ruang kerja Bosscha di perkebunan Malabar.

Selama 32 tahun masa pelayanannya sebagai pengelola perkebunan teh, dia telah mentuntaskan suatu karya yang luar biasa. 
Dia mendirikan dua pabrik teh di Malabar, salah satunya berlokasi di dekat kediamannya yang juga tempat kerjanya, yaitu pabrik teh Malabar dan yang satu lagi didirikan setelahnya (1905), yaitu Tanara (kini pabrik teh Malabar).
Pabrik the Malabar yang asli kini dialihfungsikan menjadi gedung olah raga ‘Dinamika’.

Pemandangan perkebunan teh dari atas.

 

Pemetik the berkumpul di lapangan pabrik the Malabar, menunggu acara selametan. Di sebelah kiri tampak pohon Ki Hujan yang ditanam tahun 1931 sebagai ungkapan akan harapan datangnya curah hujan yang cukup.

Kedua pabrik the tersebut didirikan di tengah-tengah perkebunan the dengan maksud agar daun-daun the yang baru dikumpulkan dapat segera dibawa ke pabrik dalam keadaan masih segar.
Pada saat itu, daun-daun the yang dipetik tersebut dibawa dengan keranjang dan para ibu pemetik harus berjalan ke pabrik melalui semak-semak tanaman the. Untuk itu, jalan setapak dibuat melintas ke segala arah sehingga memudahkan dalam pengangkutan, pemeliharaan, dan pengontrolan hasil produksi teh. Untuk kemudahan dalam pengawasan kegiatan-kegiatan tersebut, sebuah menara kontrol dibuat di puncak gunung Nini, yang juga dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat.

Dua orang mojang pemetik teh yang manis, khusus difoto untuk menggambarkan pekerjaan di kebun teh.

Untuk menjalankan mesin-mesin di pabrik dan penerangan di tempat pemukiman, pemerintah kolonial membuat pembangkit listrik tenaga air dibuat dengan membendung aliran sungai Cilaki, yang memiliki kekuatan 3000 tenaga kuda. Hingga saat ini pembangkit listrik tersebut masih bekerja, walaupun tidak seoptimal seperti jaman dahulu.

Nama Malabar konon berasal dari bahasa Arab, dimana “Mal-“ berarti uang, sedangkan “Abar” berarti sumur atau sumber. Pada kenyataannya, memang perkebunan Malabar ini telah menjadi sumber penghasilan yang besar bagi PT Perkebunan XII dengan keunggulan hasil produksi yang didukung oleh biaya produksi yang relatif rendah.

Sepertinya, Bosscha telah memilih tempat yang cocok baginya semasa hidup. Dia mencintai apa yang dia kerjakan di Malabar. Dia telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari keberadaan perkebunan Malabar, bahkan hingga saat ini. Dia tidak peduli dengan statusnya sebagai bujangan hingga tua. Bosscha meninggal pada tanggal 26 November 1928 dan dikebumikan di antara rimbunan semak pohon teh di perkebunan Malabar, sesuai dengan permintaannya. Makamnya yang hening masih tetap di sana, beristirahat dengan tenang.

Makamnya yang sederhana tetap di sana, beristirahat dengan tenang.

  

TMY June 2001

Dari berbagai sumber.
Terimakasih saya yang tulus kepada Hein Buitenweg, Daud Minwary, Aman Raksanagara, Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Netherlands Architecture Institute Rotterdam, Museum Sri Baduga Maharaja Bandung, dan Foto ‘Lux’ Garoet.